KOIN DARI MALAIKAT TUA ITU
Angin
bertiup kencang merobohkan sebuah pohon tua yang terletak dipinggir jalan dan
mengakibatkan macet yang cukup lama. Sungguh sore ini merupakan sore terburuk
diantara sore yang lainnya. Angin kencang yang aku benci kini menari-nari
merobohkan pepohonan dan merusak taman yang aku sukai. Hujan deras yang begitu
derasnya membuat banjir dan mengahanyutkan ikan-ikan yang ada dikolam. Angin
kencang dan hujan deras ini begitu membuatku merasa bosan, bagaimana tidak?
Akibat angin dan hujan ini tak ada satupun pelanggan datang ke toko ku ini.
Huh,
dingin.. aku pun duduk membisu dan menyilangkan kedua tanganku, dingin
sekaliiii badanku sampai gemetaran. Tiba-tiba datang seorang nenek tua, dia
tidak menggunakan sendal , bajunya basah kuyup , wajahnya pucat. Hm, dan aku
tahu sebab nenek tua ini pucat, karena kedinginan dan karena kelaparan.
Dia
tidak pergi melihat atau mengambil barang yang akan dibelinya, dan dia langsung
menghampiriku. “sore nek, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku dengan nada halus.
“hm.. eh.. begini nak, dari tadi pagi nenek berjalan kaki mencari rumah cucu
nenek tapi tidak ketemu-ketemu sampai sore ini, nenek mau tanya kamu tahu tidak
alamat ini?” ia menyodorkan sebuah kertas
yang basah dengan tulisan yang luntur itu kepadaku. “ nek, lokasinya sangat
jauh dari sini. Kalau hujan berhenti saya antar nenek ke alamat ini, kebetulan
dekat dengan tempat tinggal saya, tapi nenek ganti baju dulu. Saya punya baju
ibu saya sepertinya pas dengan nenek.” “ terimakasih nak”
Aku
menutup toko ku, dan memberikan nenek ini baju ibuku , yah bukan baju bagus dan
mahal sih, tapi masih layak dipakai. Selagi nenek ini mengganti baju, aku
memasakan sup dan nasi goreng untuknya. Sebenarnya aku tidak bisa memasak tapi
wajah lelah dan kelaparan nenek ini membuat tanganku lihai mengambil bumbu dan
mencampurnya.
Diapun
keluar dari kamar ganti, dia nampak sangat cocok menggunakan pakaian itu. Aku
jadi senang melihatnya ..haha .
Sepiring
nasi goreng hangat, semangkuk sup yang tak kalah hangatnya dan segelas susu
hangat. Dia langsung melahapnya dengan semangat, tampaknya dia sangat
kelaparan. Setelah dia selesai mengahabiskan makanan dan susu nya, dia langsung
mengajakku untuk ketempat anaknya, tapi hujan belum berhenti. Dia setuju untuk
hal itu.
Jam
menunjukan pukul 5 sore dan hujan telah berhenti. Aku pun mengajak nenek itu
untuk ketempat anak nya. Tapi dia menolak, katanya tunggu dulu masih mau
istirahat sebentar. Karena ku pikir dia lelah jadi tak ada salahnya kan untuk
membiarkan nenek tua yang kelelahan ini beristirahat sebentar.
Aku
duduk dikursi dengan melipat kedua tanganku, kenapa toko ini sepi sekali
bagiku. Jika aku punya uang banyak akan ku ubah toko ini menjadi lebih besar
dan bagus, agar orang-orang mau datang dan berbelanja lagi disini. Tapi uang
banyak hanya mimpi, sumber kehidupanku saja hanya dari toko ini, bagaimana mau
dapat uang untuk toko ini? Hah, Cuma mimpi kan?
Nenek
tua itu menghampiriku “nak, kau tidak usah mengantarku ke tempat cucuku itu,
aku sudah menemukan jalannya, sebagai tanda terima kasih ambilah ini” ia
menyodorkan uang recehan, 2 keping koin Rp.500 dan 4 keping koin Rp.200 . aku cengang melihat uang itu, dan aku
mengembalikannya “nek, saya menolong nenek karena saya iklas, saya tidak
mengharapkan balas budi atau tanda jasa karena iklas nek, jadi saya minta nenek
jangan tersinggung karena saya menolaknya tapi uang ini milik nenek dan saya
tidak meminta uang itu” “nak, aku juga tidak pernah memintamu untuk memberikan
ku makan dan baju, tapi karena keiklasanmu kau memberiku , begitu pula aku. Aku
iklas memberimu uang ini, atau apakah jumlah yang kuberikan ini kurang atau
penghinaan bagimu?” “sungguh nek, bukan begitu, saya hanya ingin menolong nenek
jangan bilang begitu nek, saya iklas”
Tak
kurasa air mata berjatuhan dari mataku, nenek itu tersenyum begitu manis
sehingga menutupi keriput diwajahnya. Di menarik tanganku dan memberikan uang
itu. “nak, jangan menangis nenek tau kalau kamu iklas menolong nenek. Sudah lah
hapus air matamu dan simpanlah uang ini sebagai kenang-kenangan dariku.” Saat
aku mengusap air mataku, ku lihat nenek tua itu telah tak ada didepanku dan aku
berlari keluar toko sambil memegang uang koin itu. Ku lihat kanan dan kiri tak
satupun ada orang disekitarku. Nenek malaikat tua itu telah pergi.
Hari
ini tepat 5 tahun aku menyimpan koin dari nenek tua itu, nenek yang memiliki
senyum termanis dan terhangat yang sangat kukangumi. Semejak nenek itu eh,
lebih tepatnya malaikat tak bersayap itu memberiku koin-koin ini tokoku menjadi
ramai dan aku mempunyai penghasilan banyak sehingga aku sudah merubah dari toko
satu petak menjadi delapan petak, berkat koin ini. Terima kasih nenek ..berkat
koin dan keiklasanmu aku dapat mewujudkan mimpiku. Dan aku masih punya satu
mimpi lagi, memiliki sebuah panti untuk anak yang tidak mempunyai orang tua
sepertiku dan anak anak yang ditelantarkan serta mereka yang tidak punya tempat
tinggal, akan ku bangun sebuah istana untuk mereka!...

